Saya masih disini meratapi kehancuran, penyesalan dan kekecewaan terhadap orang-orang yang pernah dekat dengan saya. Hebat benar hidup saya membayangkan betapa bahagia dan senangnya mereka melihat hidup saya yang sudah hancur, tapi belum hancur ‘total’ berkeping-keping karena masih ada harapan yang tersisa.
Indahnya dunia ketika saya menepis keinginan untuk mengakhiri hidup terutama jika saya berhasil ‘hijrah’ dari sini. Hal ini akan menjadi kabar buruk bagi orang-orang yang bermasalah dengan saya karena mereka akan segera berhadapan dengan pendendam yang hidupnya sudah pernah rusak selama 12 tahun menderita.
Saat ini saya masih disini, berteriak minta tolong dan tidak ada yang mau menolong bahkan ada juga yang pura-pura tidak mendengar, siapa yang mau menolong saya ? serta kemana teman-teman saya ? dan teman itu apa, siapa dan gunanya untuk apa ?
Tempat Berpijak yang Rapuh
Disini saya tinggal, Di rumah mertua saya menumpang hidup, makan dan tidur gratis. secara harfiyah tempat pijakannya memang rapuh, kalau terinjak atau diinjak bisa nembus dan jatuh ke lantai bawah karena kelembapan yang merembes dari tembok tetangga membuat lantai kayu di tempat saya lapuk.


Lantainya lapuk serta bisa retak dan patah kalau terinjak. ini posisinya dilantai 2, jika dilihat dari bawah penampakannya seperti ini:

Tempat saya berpijak sama rapuhnya dengan tubuh, mental dan jiwa saya. Tubuh yang menderita Autoimun SSC, jiwa yang mengalami gangguan dan telah memenuhi persyaratan untuk tinggal di rumah sakit jiwa karena kehaluan mental yang menjadi koping mekanisme saya sehari-hari hidup dalam lamunan sambil menikmati kopi creamy latte dan biskuit roma kelapa.
Saya tidak bisa lagi berharap untuk menemui keajaiban karena keajaibannya tidak mau menemui saya, Jangankan keajaiban, malaikat Izroil saja yang dari kemarin saya tunggu-tunggu untuk menjemput saya, tidak kunjung muncul juga. Mungkin dia sibuk terjebak kemacetan di kota besar, padahal saya sudah ngebet ingin cepat-cepat pulang ke Rahmatullah.
0 Comments